Jumat, 22 Mei 2026, bukan sekadar hari terakhir kegiatan Hizbul Wathan di SMP Muhammadiyah 4 Kebomas. Hari ini menjadi penutup tahun ajaran dengan derap langkah penuh semangat, tawa riuh, hingga momen “tersesat” yang berujung gelak tawa dalam sebuah jelajah lingkungan yang menguji pikiran dan mental para siswa.
Sejak pagi, suasana sekolah sudah ramai. Siswa bergegas menuju titik kumpul, sementara suara tawa dan aba-aba terdengar bersahutan. Lendra Aditya, waka kesiswaan, memimpin langsung kegiatan ini. Sebelum petualangan dimulai, siswa diarahkan berangkat bergantian, demi ketertiban dan kelancaran. Peluit berbunyi nyaring, semangat peserta membuncah, petualangan HW pun dimulai.
Pos pertama menyajikan materi sandi kotak. Dipandu Najma, Safa, dan Pristy, siswa tampak serius memecahkan kode. Mereka duduk berkelompok di bawah rindangnya pepohonan sekolah. “Kerjakan dalam waktu 2 menit, selesai tidak selesai kumpulkan,” kata Pristy.
Instruksi itu seketika mengubah suasana menjadi riuh. Wajah siswa tampak tegang sekaligus antusias. Ada yang sibuk menulis cepat, ada yang berbisik mencoba memecahkan sandi, sementara bunyi hitungan waktu membuat adrenalin terpacu.
Perjalanan berlanjut ke pos kedua, dengan materi sandi AN-NZ. Di sini, Syamil, Faruk, dan Aini menguji ketelitian serta kerja sama tim. Beberapa siswa terlihat menepuk jidat karena kebingungan membaca sandi, sementara yang lain tertawa saat berhasil menemukan jawaban. Semilir angin pagi dan suara dedaunan bergesekan menambah hidup suasana jelajah.
Pos terakhir menjadi puncak keseruan: menebak kata dari gerakan semaphore. Wopi, salah satu siswa kader, memperagakan gerakan. Peserta memperhatikan dengan penuh fokus, sesekali berteriak memberikan jawaban. “Clue-nya yang ada di MBG kita makan,” ujar wopi. “Oh buah, Kak!” tegas para siswa menjawab kompak, disambut gelak tawa peserta lainnya.
Kejadian unik sempat mewarnai: beberapa siswa tersesat karena tidak mengikuti instruksi jalur. Beruntung, mereka segera ditemukan kembali tak jauh dari lokasi kegiatan. “Untung tersesat tidak jauh,” kata Furqon sambil tertawa ringan.
Menurut Lendra Aditya, kegiatan penutupan HW ini bukan sekadar permainan. Ia menjadi sarana melatih kedisiplinan, kerja sama, keberanian, dan kemampuan berpikir cepat siswa. Selain itu, kegiatan di luar kelas semacam ini mendekatkan siswa dengan lingkungan sekitar, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan antarteman. “Kegiatan ini menjadi penutup HW yang menyenangkan sekaligus bermakna. Anak-anak belajar memahami instruksi, bekerja sama, dan tetap semangat menyelesaikan tantangan di setiap pos,” ujarnya.
Melalui jelajah dan materi ini, siswa tak hanya belajar menggunakan pikiran. Mereka juga merasakan pengalaman secara langsung lewat panca indra. Mata melihat petunjuk dan gerakan semaphore, telinga mendengar aba-aba serta sorak semangat teman-teman, tangan bergerak cepat menulis jawaban, kaki melangkah menyusuri rute jelajah. Suasana pagi yang sejuk semakin menambah kesan menyenangkan pada penutupan HW tahun ini.









